Recursive [9]

Character/Pairing(s): Hyun Seung/HyunA(Trouble Maker)
Rating: R

“. . .sometimes one feels freer speaking to a stranger than to people one knows. Why is that?”
“Probably because a stranger sees us the way we are, not as he wishes to think we are.”
― Carlos Ruiz ZafónThe Shadow of the Wind

 

“JS?”

“Kenapa kau kaget begitu?”

“Aku tidak menyangka kau akan menghubungiku lagi. Lewat sini. Maksudku, menulis email itu satu hal, tapi berbicara begini—terlalu personal. Kupikir—argh! Lupakan, aku tidak tahu apa yang aku bicarakan dari tadi.”

“Tidak apa-apa.”

“Apa maksudmu tidak apa-apa? Memangnya kau tidak merasa aneh dengan ini? Maksudku, kita terbiasa berkomunikasi lewat email dan mendadak—ini.”

“Apa ini salah?”

“Salah. Salah dalam semua hal.”

“Jangan marah begitu, Sooyoung-ah.”

“Sooyoung!? Kau mabuk ya? Ini aku Hyuna! Aku tidak percaya ini, kau—kupikir kau anti-sosial yang menganggap dirimu orang suci atau semacamnya!”

Lawan bicaranya terdiam selama beberapa saat. Kemudian terdengar suara tawa dan Hyuna menggeram kesal, “Yah, JS!”

“Aku bercanda, kau selalu berteriak-teriak seperti ini kepada semua orang?”

“Hanya kepada orang brengsek sepertimu.”

“Aku merasa spesial.”

“Brengsek.”

_____________________________________________________________

Kedua kalinya nomor JS tertera di layar teleponnya Hyuna tidak lagi terkejut. Ia merasa aneh, tapi ia tidak lagi begitu kagetnya sehingga jantungnya seakan mau lepas dari dadanya. Ia pikir itu kemajuan besar. Hyuna menarik nafas, menyiapkan hati.

“Yoboseoyo?”

“Hyuna, ayo kita makan malam.”

“Kita… maksudmu kita berdua?”

Siapa lagi?”

“…”

Ada sesuatu yang aneh mengenai JS akhir-akhir ini. Hyuna menatap telepon genggamnya dengan ekspresi aneh. Ia merasa ada yang salah, tapi di saat yang bersamaan ia juga tidak bisa menjelaskan. Ia merasa JS yang biasa tidak akan pernah mengajaknya bertemu, apalagi untuk makam malam berdua. Tapi ia juga tidak merasa mengenal JS dengan sebegitu baiknya hingga bisa berkata apa yang mungkin atau tidak mungkin dilakukan oleh laki=laki itu.

“Hei…” Suara di telepon membuyarkan lamunannya, “Tidak mau? Aku tidak akan mengajakmu lagi.”

“Bukannya tidak mau…”

Hanya saja JS yang berbicara dengannya terasa berbeda.

“Bagus. Hari Jumat, jam 8 malam di OK2 Kitchen?”

“Aku tidak bilang mau!”

“Tapi kau juga tidak menolak. Dan aku yakin kau penasaran ingin bertemu denganku.”

Hyuna tidak bisa menyangkal hal itu. Orang yang sudah berkorespondensi dengannya selama berbulan-bulan, mana mungkin ia tidak penasaran? Pada akhirnya ia mengiyakan saja.

_____________________________________________________________

Hyuna membetulkan kacamatanya, agak gugup. Ini pertama kalinya sejak entah kapan ia keluar tanpa menggunakan make-up sama sekali. Ia bahkan mengenakan kaca mata alih-alih lensa kontak. Dengan sweater abu-abu dan jeans, ia kelihatan sama sekali tidak seperti dirinya yang biasa. Atau mungkin itu karena ia mengenakan wig cokelat pendek. Ia dan rambut panjangnya sudah bersama bertahun-tahun lamanya hingga ia tidak ingat kapan terakhir kali memiliki rambut yang panjangnya bahkan tidak mencapai bahunya.

Jadi rencananya kira-kira begini, ia datang ke restoran tempat janjiannya dengan JS, melihat seperti apa rupa laki-laki itu, kemudian ia akan pulang. Rencana yang sempurna mengingat sejujurnya ia belum menyiapkan hatinya untuk bertemu JS secara langsung. Bagaimana pun, ia menangis kepadanya. Sungguh memalukan.

Hyuna ingin mengubur dirinya sendiri setiap ingat hal itu.

Saat ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu restoran terbuka dan seorang pemuda masuk. Kemeja merah, hal yang JS katakan ia akan kenakan untuk malam ini. Hyuna mengedipkan matanya. JS terlihat… tidak seperti yang ia bayangkan. Ia selalu berpikir JS adalah tipe yang mengenakan kemeja rapi, dasi, dan jas atau blazer. Sedangkan ternyata laki-laki itu mengenakan kemeja merah yang lengannya digulung dan menyampirkan jaket kulit bewarna hitam di tangannya. Tampan, tapi sekaligus berbahaya.

JS terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan Hyuna refleks menundukan kepalanya. Ia merasa bersalah, tapi saat ini ia merasa belum siap untuk bertemu langsung.

“Sorry, JS.”

Hyuna berbisik pelan, hanya didengar oleh dirinya sendiri, sebelum cepat-cepat keluar melalui pintu belakang restoran.

_____________________________________________________________

Hyunseung memijat pelipisnya, gunungan berkas di depannya tidak membantu sakit kepalanya akibat minum-minum kemarin. Ia menyesal telah membiarkan teman-temannya memaksanya minum terus meskipun ia tahu toleransi alkoholnya tidak setinggi itu. Ia menyipitkan matanya kea rah Dojoon yang terlihat baik-baik saja meskipun ia mungkin meminum lebih banyak bir daripada Hyunseung.

Dojoon telah membookingnya satu hari ini demi kemajuan kasus yang sedang mereka tangani bersama. Salah satu politikus mengajukan tuntutan bahwa anaknya telah dipaksa ikut dalam serikat narkoba besar. Hyunseung sebagai jaksa penuntut yang diminta oleh politikus tersebut, sedangkan Dojoon memang sedang mengejar-ngejar serikat narkoba yang dimaksud.

“Bukti yang ada cukup untuk menginterogasi orang-orang ini.”

“Lee Joon? Ini skandal yang besar, hyung, salah-salah kau bisa dituduh mencemarkan nama baik.”

“Kita tidak akan menetapkannya sebagai tersangka,” jelas Dojoon, “Hanya meminta keterangan. Bagaimanapun ia dan teman-temannya berada di tempat kejadian.”

“Apa ini tidak terlalu tergesa-gesa, hyung?”

“Ini satu-satunya petunjuk yang kita punya.”

Hyunseung menghela nafas, apa yang  Dojoon katakan memang benar. Ia mengambil telepon genggamnya, melihat layarnya sekilas.

“Kukira kau juga ingin menyelesaikan kasusmu secepatnya, Hyunseung-ah,” Dojoon menyandarkan punggungnya pada sofa tempatnya duduk, “Aku yakin kau tidak mau berlama-lama berhubungan dengan politikus.”

“Bocah manja yang bergantung pada kekuatan politik papa, siapa yang bisa tahan dengan klien macam ini,” ujar jaksa itu dingin diikuti dengan dengusan menghina.

“Jadi, bagaimana?”

“Ini keputusanmu kan, hyung? Kau boss-nya.”

“Kupikir ini kasus kita bersama?”

“Aku—“ Hyunseung tampak kehilangan kata-kata, ia sebenarnya juga tidak mengerti apa yang membuatnya ragu-ragu seperti ini. Ia meletakan telepon genggamnya di atas meja dan mengangguk pelan, “baiklah. Kau benar, hyung.”

Dojoon mengangkat alisnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah adik kelasnya itu. Hyunseung bukan orang yang mudah dimengerti, tapi bahkan Dojoon bisa mengetahui bahwa ada sesuatu di pikiran jaksa itu yang membuatnya sulit berkonsentrasi.

“Kau tidak seperti biasanya, ada masalah?”

“Tidak.”

Jawaban yang terlalu yakin, terlalu cepat.

“Tentu saja. Orang yang tidak bermasalah akan terus menerus memegang telepon sgenggamnya dan terlihat tidak bisa fokus sama sekali. Baiklah.”

Hyunseung tidak merespon. Ia hanya bergantian melihat Dojoon dan telepon genggamnya. Ia sebenarnya tahu apa yang membuatnya terdistraksi, tapi ini terlalu konyol sehingga ia sendiri tidak percaya bahwa ia sedang memikirkan apa yang ia pikirkan.

Dojoon menepuk bahunya.

“Kau bisa cerita padaku kapan saja.”

“Ya, hyung, tapi aku tidak apa-apa,” jawaban Hyunseung kali ini diikuti dengan ekspresi dinginnya yang biasa, sehingga Dojoon hanya mengangguk. Tidak ada yang bisa memaksa Hyunseung berbicara jika ia tidak ingin melakukannya.

 

Dojoon berdeham.

“Ini list orang-orang yang akan kita tanya. Orang-orang yang mengenal Jang Sihyun dan berada di tempat kejadian,” ujarnya sambil membuka sebuah map yang baru saja diserahkan padanya pagi tadi, Matanya dengan cepat menelusuri daftar tersebut, “Banyak artis yang cukup terkenal. Anak politikus punya koneksi yang luas, ya.”

“Lee Joon, Bang Cheolyong… oh, Mir yang di iklan itu, lalu ada Seungho, aku mengenalnya karena kasus tabrakannya dulu, orang baik,” komentar laki-laki itu sambil menganggul-angguk serius, “Byunghee, Cheondung, Park Gyuri!”

Nama yang terakhir disebut dengan mata berbinar dan tendangan ke tulang kering Hyunseung.

“Siapa?”

Dojoon mendesah dengan nada dramatis.

“Park Gyuri, artis luar biasa cantik yang ada di iklan kosmetik C, kau tidak tahu?”

“Mungkin pernah lihat.”

“…”

Dojoon berdeham sekali lagi.

“Sayang sekali, padahal kita bisa melihatnya hari itu. Padahal kita berada di ruangan yang sama.” “Hyorin, Park Sihyoon, Kim Sooro, Hyuna…”

 

Hyunseung menjatuhkan map yang sedang ia pegang.

 

“HYUNA! Di sana ada Hyuna dan aku tidak bertemu dengannya.”

Jaksa muda itu mengatur nafasnya dan berkata pelan, “Hyung…”

“Kita harus menginterogasi mereka semua, Hyunseung-ah!”

Hyuna terlibat…?

“Ya, hyung.”

 

Hyunseung melihat ponselnya. Ia menahan diri untuk tidak menelepon Hyuna tanpa alasan. Itu akan sangat aneh. Dan ia tidak ingin perempuan itu berpikir bahwa ia putus asa atau apa sampai meneleponnya. Ia tidak ingin perempuan itu berpikir bahwa ia suka padanya atau peduli padanya. Karena ia tidak merasakan semua itu bukan?

Ia melihat daftar panggilan yang dibuatnya. Ia bahkan tidak menyimpan nomor Hyuna karena takut ia tidak bisa menahan diri. Bodoh. Hyunseung mengutuk dirinya sendiri sambil mencari nomor Hyuna di sana, seharusnya masih berada di bagian atas mengingat yang ia telepon akhir-akhir ini hanya Doojoon dan sekertarisnya.

“…”

Tidak ada.

Hyunseung mengerutkan dahinya. Ia tidak pernah menghapus daftar panggilan. Seharusnya Hyuna berada di urutan ketiga. Saat itu ia tidak berada di kantor jadi tidak mungkin ia lupa bahwa ia menelepon dengan telepon kantor. Lalu—

Ia menelpon dengan telepon putih yang dilemparkan Junhyung kepadanya. Hyunseung menahan diri untuk tidak menendang meja kopi di depannya.

 

“Junhyung sialan.”

 

26 thoughts on “Recursive [9]

  1. orihimeindi

    Ahhhh part 9
    ^^
    Aku gak nyangka progress hyuna n js akan secepat ini, sperti percakapan ringan yang malah seperti jarang ada pertengkaran saat ditlpon seperti saat mereka berinteraksi dalam chatting.

  2. mochiangang

    i’m waiting for a long time for this, and it’s worth to read! >,<

    wait, udah gagal ketemu, dan hyuna terlibat 'kasus'-nya joon? apa mereka bakal ketemu di ruang interogasi? .__. that will be so awkward…

    dan itu… YONG JUNHYUNG!
    kenapa hapenya bisa ketuker gitu? ;__; masa iya, nnti junhyung tau kalo JS kenal sama hyuna?

    i'll keep waiting for the next chap ^^

    fighting!! ^^9

  3. Jang Soobin

    Ya ampuuuuuunnn ><
    update yg sangat dinanti2!! :D
    ahh, aku udah menduga si Hyunseung itu nelpon Hyuna bukan pake hapenya.. ternyata bener. Jadi, yg dateng ke kafe itu juga Junhyung bukan Hyunseung? Untung lah si hyuna keburu kabur duluan..
    Jadi… ini baru masuk ke inti cerita yaa? Berarti masih ada banyak part lagi? Yeayyy!! ^^

  4. silvia

    addduhhhh sumpah dilanjut min part nya secepetnya yak,eh tapi kalo semisal itu bukan hyunseung dan junhyung ….???????

  5. hannah

    i loooooove everything about hyuna and js and of courseee i will wait for the next chapter. thanks for writing this :’>

  6. naniokta

    Yeah, setelah menunggu lama akhirnya…
    sejak awal baca ff ini udah addicted sama ceritanya. suka sama karakter hyuna sama JS disini.
    pengennya sih bilang ke authornya “Jangan lama2 dong update ff nya.” cuma ya apa mau dikata selama apapun akan ditunggu updatean ff ini. suka banget. worth to wait lah ^^

  7. HR

    Akhir’ny bisa baca chap ke -9 makin lama makin seruu crta’nyyy wouuhhh i like it! :D Js n Hyuna cocookkkkk ‘-‘

  8. kimsahee

    ternyata itu kelakuan Junhyung -_-
    aku berpikir juga tidak mungkin Hyunseung seberani itu
    hanya bisa menunggu sampe part selanjutnya di publish ^^

  9. @honeys_JS

    ahh gmna hp nyya hyunseuntertukar am junhyung !!!!
    trus gmna kl junhyung tau kl hyunseung nyimpen no hyuna ahh pasti akan terjadi sesuatu ???????????
    ditunggu next part nyya ^_^

  10. @honeys_JS

    ahhh aq baru sadar ternyata yg ketemu hyuna bukan JS togh aq jd ngerti skrg ^^^
    ahh junhyung emanx udda tertarik am hyuna mna otak nya yadong , hhheee :D
    berati hyuna blum ketemu JS kan ?????
    pengen cepet” baca part selanjut nyya ^^

  11. ILyn

    Jadi HyunA belum tau kan JS itu siapa?

    Haduh, Junhyung sialan! Aduh, tau gak yah Hyuna nya JS itu HyunA si artis porno..

    lanjutnya jgn lama2 ya author :)

  12. mrsbangster

    Jadiiii, yang telepon Hyuna buat ketemuan itu siapaaa? Hyunseung apa Joker???

    Semoga part selanjutnya lebih menantang lagi, ㅋㅋㅋㅋㅋ

  13. Kim Kumiko

    hwaaaah telat banget komennya =”=
    akhirnyaaaa setelah penantian luaamaaa~~~ mungkin karena lumayan lama, aku jadi rada lupa chapter sebelumnya ._. alhasil rada bingung deh *curhatz*
    jadii… sama kayak pertanyaan-pertanyaan lainnya, apa Junhyung yg ketemuan sama Hyuna? pantesan JS laen, karena orangnya laen? ._.v
    dan Hyuna pergi….? ga ketemu sama Junhyung…? o.Oa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s